Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Latest Posts

Jumat, 22 April 2011

Perenialisme

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.

Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik.

Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.


PANDANGAN MENGENAI KENYATAAN
Perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa reality is universal that is every where and at every moment the same (2:299) realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu.

Dengan keputusan yang bersifat ontologism kita akan sampai pada pengertian pengerian hakikat. Ontologi perenialisme berisikan pengertian : benda individual, esensi, aksiden dan substansi.

  • Benda individual adalah benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita seperti batu, kayu,dll
  • Esensi dari sesuatu adalah suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik intrinsic daripada halnya, misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir
  • Aksiden adalah keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya, misalnya orang suka barang-barang antik
  • Substansi adalah suatu kesatuan dari tiap-tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.

Menurut Plato, perjalanan suatu benda dalam fisika menerangkan ada 4 kausa.

  • Kausa materialis yaitu bahan yang menjadi susunan sesuatu benda misalnya telor, tepung dan gula untuk roti
  • Kausa formalis yaitu sesuatu dipandang dari formnya, bentuknya atau modelnya, misalnya bulat, gepeng, dll
  • Kausa efisien yaitu gerakan yang digunakan dalam pembuatan sesuatu cepat, lambat atau tergesa tergesa,dll
  • Kausa finalis adalah tujuan atau akhir dari sesuatu. Katakanlah tujuan pembuatan sebuah patung.

PANDANGAN MENGENAI NILAI
Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan.

Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.
Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan: yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan pengajaran.

Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan masalah keindahan harus berakar pada dasar dasar teologis, ketuhanan.

PANDANGAN MENGENAI PENGETAHUAN
Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.

Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil-dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya. Menurut Aristoteles, Prinsip-prinsip itu dapat dirinci menjadi :

  • Principium identitatis, yaitu identitas sesuatu. Contohnya apabila si Bopeng adalah benar รข€“ benar si Bopeng ia todak akan menjadi Si Panut.
  • Principium contradiksionis ( prinsipium kontradiksionis), yaitu hukum kontradiksi (berlawanan). Suatu pernyataan pasti tidak mengandung sekaligus kebenaran dan kesalahan, pasti hanya mengandung satu kenyataan yakni benar atau salah.
  • Principium exelusi tertii (principium ekselusi tertii), tidak ada kemungkinan ketiga. Apabila pernyataan atau kebenaran pertama salah, pasti pernyataan kedua benar dan sebaliknya apabila pernyataan pertama benar pasti pernyataan yang berikutnya tidak benar.
  • Principium rationis sufisientis. Prinsip ini pada dasarnya mengetengahkan apabila barang sesuatu dapat diketahui asal muasalnya pasti dapat dicari pula tujuan atau akibatnya.

Perenialisme mengemukakan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat.

Science sebagai ilmu pengetahuan
Science yang meliputi biologi, fisika, sosiologi, dan sebagainya ialah pengetahuan yang disebut sebagai empiriological analysis yakni analisa atas individual things dan peristiwa-peristiwa pada tingkat pengalaman dan bersifat alamiah.

Science seperti ini dalam pelaksanaan analisa dan penelitiannya mempergunakan metode induktif. Selain itu, juga mempergunakan metode deduktif, tetapi pusat penelitiannya ialah meneliti dan mencoba dengan data tertentu yang bersifat khusus.
Filsafat sebagai pengetahuan
Menurut perenialisme, fisafat yang tertinggi ialah ilmu metafisika. Sebab, science dengan metode induktif bersifat empiriological analysis (analisa empiris); kebenarannya terbatas, relatif atau kebenarannya probability.

Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat ontological analysis, kebenaran yang dihasilkannya universal, hakiki, dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri, berpangkal pada hukum pertama; bahwa kesimpulannya bersifat mutlak, asasi.

Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa empiris dan analisa ontology keduanya dianggap perenialisme dapat komplementatif. Tetapi filsafat tetap dapat berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum hukum dalam filsafat sendiri, tanpa tergantung kepada ilmu pengetahuan.

PANDANGAN TENTANG PENDIDIKAN
Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya
1. Plato
Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato, dunia ideal, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.

Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak, yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan

2. Aristoteles
Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari.

Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal
Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya.

Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir(2:317)

3. Thomas Aquinas
Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :

  • Cinta kebenaran
  • Cinta kebaikan dan keadilan
  • Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi
  • Cinta kerjasama

Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain.

PANDANGAN MENGENAI BELAJAR
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah :

Mental disiplin sebagai teori dasar
Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.

Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan.
Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan ; otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk- makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.

Learning to Reason ( Belajar untuk Berpikir)
Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.

Belajar sebagai Persiapan Hidup
Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.

Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)
Adler membedakan antara learning by instruction dan learning by discovery, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar.

Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery ; dan ia melakukan moral authority atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.

read more...

Rabu, 20 April 2011

Apa yang harus dilakukan ? (sekelumit tentang gerakan mahasiswa di Indonesia)

Sejarah gerakan mahasiswa tak bisa dilepaskan dari kondisi zaman yang bersangkutan dimana, dinamika sosio-politik mendasarinya. Gerakan mahasiswa selalu diidentikan dengan aksi penyikapan menentang kebijakan penguasa, atau isu-isu yang berkembang dalam level lokal, nasional, bahkan internasional. Penyikapan aksi yang bisa dilakukan dengan berbagai metode entah turun ke jalan, penyebaran pamflet, diskusi kecil-kecilan dan masih banyak lagi. Semuanya berdasarkan suatu asumsi bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang sudah menempuh hirarki pendidikan paling tinggi. Ditambah kelompok mahasiswa sebagai motor penggerak suatu gerakan menuju perubahan.


Disamping itu gerakan mahasiswa dipandang sebagai media pendidikan untuk lebih tanggap atas berbagai fakta terhadap masyarakat. Ada pandangan yang menilai bahwa kampus sebagai menara gading yang memisahkan antara realitas versus teori dan pada akhirnya menggiring pada ketidakpahaman kondisi masyarakat. Patut dicatat kembali adalah fakta historis bahwa perubahan di Indonesia tak lepas dari peranan mahasiswa 1908,1928,1945,1966,1998 dan…

Dan janin itu mulai berkembang…
Abad 20 adalah periode keemasan bagi munculnya kesadaran untuk lepas dari penjajahan kolonialisme-imperialisme asing. Hal tersebut bisa dinilai abad auklarung bagi kesadaran untuk pembebasan nasional dalam rangka mencapai kemerdekaan. Tak lepas dari kondisi yang menguntungkan Indonesia pada saat itu, politik etis pemerintah kolonial Belanda seperti edukasi membuat para kaum muda diberi kesempatan untuk meraih pendidikan sampai level yang lebih tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Pada tahun 1915, murid-murid STOVIA mencoba memulai gerakan dengan mendirikan Trikoro Dharmo. Pembentukan Tri Koro Dharmo adalah embrio dari momentum Sumpah Pemuda yang merupakan titik awal dari dimulainya rasa persatuan dan kesatuan atas dasar kebangsaan.


Pergerakan menuju kemerdekaan pun mulai banyak bermunculan sebagai reaksi keras atas penjajahan kolonial. Walaupun sempat mengalami kondisi kelumpuhan pergerakan nasional akibat tindakan kolonial yang mnghancurkan pemberontakan 1926, muncullah alternatif Kelompok Studi (Studie-studie Club) yang politis dilihat dari orientasi dan tindakan politiknya. Analisa terhadap Studie Club jelas memberikan kesimpulan bahwa kondisi obyektif ekonomi politik pada saat itu politik kolonial yang semakin represif, yang kemudian berubah menjadi liberal karena perubahan status ekonomi Belanda dan Hindia Belanda dapat direspon dan distimulasi oleh kondisi subyektif studie club yang bertransformasi menjadi sebuah partai. Walhasil, perjuangan itu mencapai pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai Proklamasi Kemerdekaan yang merupakan pertanda bebasnya Indonesia dari penjajahan asing (meskipun ???)


Perjalanan itupun dimulai…
Sekitar tahun 1940-an akhir sampai medio 1950-an mulai bermunculan berbagai macam organisasi mahasiswa yang dimulai dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam),GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia),GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia),PMKRI (Persatua Mahasiswa Katolik Republik Indonesia),GMSOS (Gerakan Mahasiswa Sosialis),CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia). Perkembangan tersebut diikuti dengan konstelasi politik yang menunjukkan relasi antara PKI-Soekarno-Militer. Relasi tersebut bersifat antara PKI dan militer sementara Soekarno sebagai penyeimbang Sampai pada akhirnya tejadi pergolakan 1965 yang menggulingkan Soekarno dari kursi presiden, pun mahasiswa saat itu memainkan peranannya meskipun banyak yang menilai bahwa militer dan CIA/kepentingan AS turut campur tangan.


Memasuki dasawarsa 1970-an terlebih pada peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Hari) 1974 yang memprotes dominasi modal asing ke Indonesia, gerakan mahasiswa lebih banyak ke aksi moral yang menurut Arief Budiman, diibaratkan seperti koboi yang sedang membasmi perampok di suatu kota, setelah perampok selesai ditangani maka koboi akan pergi begitu saja atau dengan pendek kata hanya sebatas koreksi ketika ada ketimpangan dalam masyarakat. Menjelang Pemilu 1977, gerakan mahasiswa mulai mengembangkan diri ke isu-isu politik diantaranya ketidakpercayaan kepada pencalonan kembali Presiden Soeharto sebagai presiden. Disamping itu, tokoh militer ini dinilai tak mampu memperbaiki kondisi perekonomian bangsa. Walhasil, perlawanan mahasiswa tersebut dijawab dengan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Kordinasi Kampus) yang menetralisir kehidupan kampus bersih dari isu politik.


Dan Perlawanan itu makin menghebat…
Kondisi kehidupan kampus yang netral dari masalah politik membuat mahasiswa mencari alternatif lain untuk mengkritisi pemerintahan Orde Baru antara lain dengan cara forum diskusi, turun ke organ-organ sektoral (buruh, petani, nelayan, miskin kota) lewat metode advokasi, dan beberapa mencoba ke jalur pers. Dukungan kepada mahasiswa pun mulai mengalir dari beberapa cendikiawan dan tokoh-tokoh nasional antara lain, Gus Dur dan Nurcholis Madjid. Sedikit demi sedikit kekuasaan rezim Orde Baru mulai digerogoti oleh pihak-pihak yang mulai merasa kediktatoran ini harus diakhiri sebab represifitas kepada rakyat hanya akan memperhebat resistensi. Dan pada akhirnya tanggal 21 Mei 1998, Bapak Pembangunan Jenderal Soeharto yang dianggap sebagai representasi rezim Orde Baru itu mundur.


Pergantian tampuk kekuasaan ke tangan Gusdur lalu ke Megawati dianggap masih belum memuaskan keadaan ekonomi-politik dan segala aspek lainnya. Sebab zaman baru sedang tiba yaitu Globalisasi yang diyakini tidak menghasilkan pemerataan kesejahteraan bagi rakyat. Paham baru ini mengharuskan dunia ada di bawah tatanan aspek yang mengglobal, namun yang malah terjadi penyeragaman paham. Bahkan yang lebih parah lagi, janji globalisasi untuk kemakmuran masyarakat dunia malah menyisakan kemiskinan bagi negara-negara berkembang tak terkecuali Indonesia. Oleh karena itu, ada yang bilang bahwa globalisasi tak jauh berbeda dengan penjajahan gaya baru.


Jadi, bagaimana…?
Zaman penjajahan gaya baru menghancurkan pagar-pagar negara-bangsa dan ironisnya diwarnai sebuah kerusakan dimana-mana mulai dari ekonomi, politik, budaya, hingga pola pikir suatu bangsa. Sulit dibedakan mana yang nasional dan global. Jika diambil dalam ruang ke-Indonesia-an maka kita akan menemukan bagaimana aset publik seperti (tanah, hasil tambang, kesehatan, pendidikan, dsb) jatuh ke tangan penjajah asing dan beberapa gelintir boneka penjual bangsa yang nyata-nyata duduk dalam lembaga-lembaga negara atau disekeliling kawan pembaca sekalian.


Invasi perusahaan raksasa berbendera pihak asing telah merusak kemandirian Indonesia. Lihat !!! Perusahaan Freeport leluasa menguras habis kekayaan alam bangsa ini, belum lagi perusahaan lainnya yang wataknya tak jauh berbeda dengan penjajah Belanda dahulu. Di sektor paling dekat seperti pendidikan, konsep Badan Hukum Milik Negara (BHMN) tak lebih adalah proyek World Trade Organization (WTO) dalam mengkomersialisasikan pendidikan yang notabene sarana pencerdasan kehidupan bangsa. Jika pendidikan sudah dikomersialisasikan maka yang terjadi adalah kenaikan SPP dan pada akhirnya tercipta sebuah kata-kata yang menakutkan yaitu :PENDIDIKAN BUKAN UNTUK ORANG MISKIN !!!


Di masa lalu, saat mana kampus selalu menjadi satu suara untuk rakyat, baik itu birokrat, dosen maupun mahasiswanya. Pergeseran tradisi pembelajaran secara signifikan kini telah berhasil menutup ruang-ruang kreatifitas mahasiswa dalam membangun pergerakan akibat sempitnya kesempatan aktualisasi. Para mahasiswa terjebak dalam suasana kuliah secepatnya, IP bagus, dapat kerja, tanpa sempat memikirkan realitas di luarnya padahal mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Perlu sebuah kesadaran untuk mengubah keadaan yang sudah demikian ini, untuk segera menghasilkan apa yang dinamakan perubahan sosial dimana keadilan sosial tercipta. Kesadaran ialah suatu pola pikir yang terprogram untuk segera melakukan praktek dalam dimensi realitas. Kesadaran untuk berbangsa dan bernegara dalam menghadapi era baru yaitu globalisasi.

read more...

Tesis hari Ini

...tapi kebenaran lalu menjadi rumit

Andai ke-takbenar-an yang dibenarkan;

Keadilan lalu jadi sulit

Andai ke-tidakadil-an yang diadilkan!

(Jujun S. Suriasumantri, “Tesis Hari Ini”. 1996)

read more...

Puisi Taufik Ismail

Fariruddin Attar bangunlah pada malam hari

Dan dia memikirkan tentang dunia ini

Ternyata dunia ini

Adalah sebuah peti

Sebuah peti yang besaar dan tertutup di atasnya

Dan kita manusia berputar-putar di dalamnya

Dunia sebuah peti besar

Dan tertutup di atasnya

Dan kita terkurung di dalamnya

Dan kita berjalan-jalan di dalamnya

Dan kita bermenung di dalamnya

Dan kita beranak di dalamnya

Dan kita membuat peti di dalamnya

Dan kita membuat peti

Di dalam peti ini

read more...

Pojok Aksiologi

Mengalami zaman edan

Kita sulit menentukan sikap

Turut edan tidak tahan

Kalau tidak turut edan

Kita tidak kebagian

Menderita kelaparan

Tapi dengan bimbingan Tuhan

Betapa bahagia pun mereka yang lupa

Lebih bahagia yang ingat serta waspada

(Amenangi jaman edan

Ewuh ayu ing pambudi

Melu edan ora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Dilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lan waspada)

Ranggawarsita (1802-1873)

read more...

Prostitusi Intelektual

Oleh : Angga Rieskiyanto*

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” – Tokoh Proklamator Soekarno

Martabat bangsa dibangun tidak hanya dengan kelayakan dan kepatutan dalam soal-soal elementer (pangan, papan, sandang, kesehatan, pendidikan dan lainya), melainkan juga dengan sebuah cara berpikir yang visioner dan membebaskan. Cara berpikir ini memiliki titik tolak, yakni memerdekakan dan memuliakan eksistensi manusia (red : rakyat). Dua titik tolak itu bersumbu pada sikap dan tindakan (red: perubahan).

Pada fase inilah, kita memaknai bangsa sebagai sebuah ideologi perubahan sosial (social movement), politik, ekonomi dan kultural. Bangsa yang baik menuntut kita untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan memiliki peradaban tinggi.

Bangsa kemudian harus menunjukan makna patut dan layak secara epistemologi ketika disebut ‘patut’ dan ‘layak’. Makna ‘layak’ meniscayakan sebuah kondisi obyektif realitas manusia yang memenuhi ukuran standar kehidupan normal seperti sandang, papan, pangan, pendidikan dan lainya. Sedangkan makna ‘patut’ meniscayakan kondisi obyektif realitas manusia terkait dengan dimensi etis. Etika merupakan orientasi dari nilai moral yang menuntun sikap, perilaku atau kebudayaan manusia. Semisal jika ada orang kaya di negeri ini, secara hukum dia sah untuk memiliki puluhan mobil mewah, puluhan apartemen dan lainya. Tapi secara etika (moral) apakah hal itu patut terkait dengan masih besarnya jumlah orang miskin di negeri ini?

Berbicara tentang bangsa maka harus kemudian kita melihat perubahan politik di Indonesian pasca gerakan reformasi 1998, yang tidak membawa perbaikan nasib rakyat secara signifikan menuju kesejahteraan. Orde reformasi ternyata gagal membangun civil society. Negara ternyata justru terjebak dalam pusaran kepentingan kaum elit yang tidak pro rakyat. Padahal semestinya negara melakukan tiga hal mendasar sesuai tuntutan konstitusi yakni melindungi, menyejahterakan dan mencerdaskan rakyat. Alhasil, negara bisa disebut telah tersandera oleh kaum elit (elit politik, ekonomi dan hukum).

Elit politik menyosok pada tokoh yang menguasai lembaga legislatif, eksekutif dan partai politik yang memperjuangkan kepentingan kolektif kaumnya. Elit ekonomi menyosok pada birokrat maupun pengusaha kapital. Mereka berhasil membangun negara berbasis kapitalisme-liberal. Sedangkan elit hukum menyosok pada tokoh lembaga peradilan dan penegak hukum. Elit hukum melahirkan banyak manipulasi dan komodivikasi yang dimunculkan dengan makelar hukum.Kaum elit secara kompak telah berhasil mengasingkan negara dari rakyat, sehingga rakyat pun kehilangan peran dan fungsi negara sebagai ‘pelayan’ yang mendistribusikan kesejahteraan.

Ironisnya negara justru menjadi agen sekaligus panitia pasar bebas yang dipompa oleh kepentingan kapitalisme liberal. Watak makelar pemimpin negara ini jelas-jelas menciderai konstitusi. Rakyat yang menggigil dalam keputusasaan. Penderitaan mereka pun semakin meningkat ketika sebagian (besar) kaum cendikia atau intelektual (red : mahasiswa) tidak membela mereka, justru melakukan pengkhianatan intelektual. Mereka berderap-derap menjadi intelektual partisan atau intelektual tukang (intelektual instrumental) yang menyembah penguasa politik dan penguasa modal. Begitu pula dengan para politisi dan sosok lain yang semestinya punya kapasitas sebagai pemimpin.

Kaum intelektual kini melanjutkan tradisi kenetralan dalam perjuangan estafet ini. Ilmu yang mereka dapatkan secara faktual telah dipergunakan secara destruktif, sehingga ilmu pun secara moral tidak lagi ditujukan untuk kebaikan manusia (red : rakyat) tetapi malah merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.

Sadar atau tidak kaum intelektual akhirnmya menjadi salah satu bagian dari kaum elit. Ketika berkontempalsi betapa sedihnya pejuang kita ketika sejarah kemanusiaan dulu dihiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar namun kini kaum inteleknya dimandikan dengan sikap pragmatis, apatis dan hedonis.

Jelas kaum intelektual memiliki counter hegemoni yang kuat untuk mengukuhkan identitasnya sebagai gerakan intelektual yang berpihak. Gramsci menyebutnya “intelektual organik”, sementara Syariati menggunakan istilah “intelektual profetik”. Keduanya tak jauh berbeda. Pada hakikatnya, intelektual bukanlah mereka yang bergerak atas dasar pilihan dan kepentingan individual. Aktivitas intelektual harus didasarkan atas upaya memperjuangkan kelas yang terpinggirkan, bukan mencari kuasa.

Tanpa landasan moral maka kaum intelektual mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “Segalanya punya moral , asalkan kau mampu menemukanya”, kata Alice dalam film Alice in Wonderland. Adakah yang lebih kemerlap dalam gelap, keberanian yang esensial dalam avontur intelektual untuk melakukan perjuangan?

Salam Perjuangan para Intelektual Muda!!!

* Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah UGM Angkatan 2009

Pengiat Forum Studi Pertanian

read more...