Malam malam seperti ini hanya bisa merenung saja. Teringat status tadi sore tentang kebahagiaan. Terbesit pikiran dengan beribu-ribu pertanyaan mulai menghasut pikiranku. lalu, mulai sebuah pernyataan aku lontarkan kepada diri ini. bahwa tak akan ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.
Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya gedung-gedung megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap perhiasan yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.
Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.
Sebab, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki. Adakah “pakaian kebahagiaan” itu telah kita sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.
Kuakhiri pikiranku yang mulai tak menentu ini. lalu, aku menyadarkan diri bahwa hari ini aku telah bahagia. bahagia bisa menjabat tangan orang-orang disekitarku, bahagia untuk satu hari sederhana namun bermakna ini, bahagia untuk selamanya karena kesederhaan.
-rieski-
Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya gedung-gedung megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap perhiasan yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.
Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.
Sebab, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki. Adakah “pakaian kebahagiaan” itu telah kita sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.
Kuakhiri pikiranku yang mulai tak menentu ini. lalu, aku menyadarkan diri bahwa hari ini aku telah bahagia. bahagia bisa menjabat tangan orang-orang disekitarku, bahagia untuk satu hari sederhana namun bermakna ini, bahagia untuk selamanya karena kesederhaan.
-rieski-

RSS Feed (xml)
0 komentar: on "Tak Sengaja Menyentuh Hati yang Bahagia"
Posting Komentar