
3 tahun yang lalu.
Ini adalah musim semi pada tahun yang sama. Serasa kemarin telah kuimpikan sebuah guguran daun dari pohon-pohon tinggi itu. Kilatan cahaya sering melesat dibalik daun yang mulai meranggas. Kawan ini masa mulainya sebuah eureka. Kedamaian dari setiap hati yang mulai dirujuk cinta, pinangan sebuah tali persahabatan bahkan masa-masa sulit dari sebuah sakit hati dan sakit yang sebenarnya. Tahukah kalian, ini adalah kisahku atau hnya mimpi yang tak sempat kuselesaikan..
Aku sering melihat banyak warna kehidupan. Aku sering percaya bahwa dalam mimpiku akan ada sebuah keajaiban dari Tuhan. Keajaiban yang akan terjadi, hingga sesekali aku harus meneteskan air mata. Ini hidupku kawan. Semangatku, asaku karana semua yang aku cinta dari kehidupan ini. Dan akhirnya, aku terus berjalan.
Persahabatan? Banyak orang tidak percaya akan sebuah persahabatan. Dan akupun juga. Tapi, itu dulu sebelum sebuah kisah menghadirkanku akan sebuah pengalaman hidup yang tak bisa diulang.
Apa yang aku takutkan akan semua ini. Keadaan itu membuatku mulai terbiasa dan akhirnya aku mulai mengenalnya. Percayalah bahwa mimpi ternyata selalu bisa menjawab dengan benar karena adanya waktu. Entah waktu yang tepat atau bahkan waktu yang salah. Dan jika waktu itu salah, aku yakin telah mengutuk diri ini untuk tidak berpisah dengan mereka. Tapi waktu itu menjawab benar bahwa perpisahan hari ini adalah jawaban waktu yang benar. Benar bahwa aku hanyalah manusia yang lemah atau benar bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk memiliki persahabatan. Setiap waktu adalah benar.
Semua ini dimulai dari keputus asaan atau bahkan semangat yang keliru dipahami. Aku sering ingin membuktikan hal itu, tapi sering kali pembuktian yang aku dapat hanya sebuah eureka belaka. Pelajaran pertama kawan, kadang mimpi juga memberikan bisa beracun maka mulailah merencanakan mimpi dengan baik. Saat itulah mimpi-mimpi yang aku bangun hanya sebatas letupan atom yang saling melesat. Hingga akhirnya kesalahan yang sempurna mungkin yang saya dapatkan. Ya, kesalahan yang sempurna.
Merekalah, sahabatku yang mewujudkan kesalahan yang sempurna dari kehidupanku. Kesalahan pertama yaitu membuatku menjadi pemimpi yang liar. Kesalahan kedua, mereka melenakanku akan sebuah persahabatan. Dan yang terakhir, mereka membuatku akan melakukan segalanya demi sebuah keutuhan dalam sebuah hubungan, yang tidak lain adalah persahabatan.
“Hidup itu sederhana, berani bermimpi lalu mewujudkannya”
Itulah kesalahan pertama yang mereka tularkan dalam urat nadiku. Akhirnya, aku sadar memang tak mudah menyimpan banyak mimpi. Sering aku berpikir bahwa suara hati senantiasa akan berbunyi yang akan menjadikan semangat untuk bermimpi. Mengejar sebuah mimpi yang kita bangun bersama. Menjelajahi sebuah keindahan sederhana yang ada dalam pribadi kita masing-masing.
Namun, inilah sekarang.
Apa yang tak pernah kau ucapkan, adalah saat apa yang selalu ingin kudengar. Tanpa alasan-alasan yang jelas, aku mulai bermimpi. Bermimpi ini, bermimpi itu yang seakan saya hidup dalam kenyataan mimpi. Namun inilah sekarang, entah mengapa hidup kita menjadi berantakan. Kota kesayanganku, tempat diamana ukiran mimpi kubangun begitu megah, kini bukan miliku lagi. Jauh dari cinta dan kini aku terus berjalan.
“Mari kita nikmati saat ini tanpa batas dan saat yang kita nantikan pasti akan tiba”
Kesalahan kedua, persahabatan sering membutakan. Hingga sering aku berpikir bahwa sebuah ketulusan itu akan abadi. Aku tersentak dari lamunan ketika debu itu mulai menerpa. Persahabatan seperti angin, lembut menyusup jiwa, aku terpejam lagi. Tuhan, saya meminta bahwa ini akan abadi. Tuhan, lindungilah ini.
Dan hari esokpun memanggilku.
Kesalahan lain dari persahabatanku adalah bahwa aku mengizinkan diri ini untuk mengajak mereka yakin akan hidup terasa lebih indah. Tapi ternyata kita semua memiliki hasrat. hanya saja berbeda. Banyak cerita yang harusnya kita dengarkan bersama. Namun, kadang persahabatan tidak meminta perkecualian. Tidak ada saling meyakiti dan tidak ada penyesalan. Semakin kita menjauhinya maka semakin dekat kita untuk saling menyakiti. Karna persahabatan.
Di suatu tempat, melodi yang khas mulai berbunyi. Di sepanjang jalan setapak yang kita lalui, lihatlah. Ada banyak orang dan ada hal yang menakjubkan dalam kemenangan mereka. Bahwa terkadang mereka tidak berjalan beriringan.
“Kita, hanya kita di dunia ini!”
Sering kuingat dimana-mana untuk membuat mimpi-mimpi kita jadi lebih ceria. Namun ironi, sering kita dapati sebuah keniscayaan. Kita telah temukan alasan bagaimana jika ini tidak benar. Dan bagaimana jika ini memang benar?
Sahabat, atas kemauanmu sendiri di halaman hatiku.
Mungkin, mari kita tuliskan bab yang baru. Tak perlu cemaskan apa yang akan terjadi nanti. Tuliskan dan lakukan saja. Tidak ada yang bilang bahwa semua akan lebih indah atau lebih buruk kecuali pikiran kita. Nilai yang kita berikan yang hanya akan menyesatkan kita. Karna kita semua memiliki hasrat, hanya saja berbeda.
Kini,
Kalian terlihat lagi, dan kenangan lama terulang lagi. Terasa air mata masa lalu melabuh dimataku. Yang harus kau tahu kawan, keadaanmu tak seperti aku. Lalu mengapa ada duka dibalik kebahagiaanmu?
Kenapa suasana dulu teringat kembali? Dan kenangan itu jauh dari jarak yang telah kutempuh ini. Sebuah momen di masa lalu. Tanpa alasan yang jelas. Aku mulai bermimpi.
Tahukah kau ini yang terjadi.
Tahukah kau kenapa?
Maka katakan dengan lantang!
Karna belum tuntas kisah kita, kita belum selesaikan mimpi ini dan karena kesalahan sempurna itu memberikan nilai-nilai persahabatan yang sejati. Di penghujung waktu, saat mulai kupejamkan mata. Aku selalu menunggu.
Yang kita butuhkan hanya saling mendengar.
Lanjutkan hidup kita masing-masing.
#hanya sebuah prolog
Ditulis dengan Kepercayaan di sepertiga malam
Musim hujan tahun ini,
Diawal 2011
Angga Rieskiyanto

RSS Feed (xml)
0 komentar: on "MOZAIK "Sebuah Prolog""
Posting Komentar