Kita sudah sangat fasih mengucapkan kata-kata magis dari Rene Descartes (1596-1650), “Cogito ergo sum” (Saya berpikir, maka saya ada). Menurut Descartes, “berpikir” dipandang sebagai nilai paling penting bagi jatidiri manusia. Kata-kata ini menjadi kata kunci di zaman abad pencerahan. Lewat kata-kata ini lahirlah filsafat modern, revolusi industri, dan pastinya juga zaman modern.
Kata-kata hebat Descartes itu, dewasa ini makin mendapat tempat. Tidak sedikit yang mengagungkan “berpikir” sebagai yang paling wahid. Bahkan, derajad keunggulan manusia diukur seturut alur ini. Contoh paling sederhana bisa kita ketemukan dalam dunia pendidikan dengan sistem peringkat. Muncullah kelas para bodoh alias “cengoh” dan kelas para cendikia super pintar.
Salah satu contoh lain yang sangat fenomenal adalah terbitnya buku “The Secret” yang begitu laris di pasaran. Secara meyakinkan dan rasional Rhonda Byrne, pengarang buku itu mengangkat kearifan para guru masa kini dalam mencapai kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Asal berpikir positif, maka manusia akan mendapatkan yang positif pula. Dengan kekuatan pikiran, manusia bisa sembuh dari penyakit, memperoleh kekayaan, mengatasi hambatan, dan mencapai hal-hal yang dianggap mustahil. Begitulah buku itu telah dibaca oleh jutaan manusia seantero bumi ini sekaligus mempengaruhinya. Dalam sudut tertentu, manusia tak sekadar sempurna sebagai manusia, lebih daripada itu manusia sudah menyerupai Tuhan.
Manakala dihadapkan pada sekilas kisah yang terungkit di atas, kiranya realitas “berpikir” tidak secara otomatis identik dengan manusia. Cogito ergo sum tak mampu menjawab persoalan manusia yang tak mampu berpikir sedari lahir.
PENCERAHAN OLEH KARL BATH
Karl Barth adalah seorang teolog penting abad lalu yang secara tegas mengingatkan manusia modern untuk memikirkan ulang kata-kata Descartes. Pada dasarnya, Barth hanya menambahkan satu huruf ”R” saja dalam kata-kata hebat dari Descartes di atas. Barth menulis bukan lagi “Cogito ergo sum, tetapi “Cogitor ergo sum”. Satu huruf “R” kecil ini bukan saja mengubah ungkapan bahasa latin Descartes ini menjadi kalimat pasif, tetapi mengubah secara total isinya.
Inilah sebuah revolusi besar di bidang filsafat, antropologi, teologi, dan spiritualitas. Barth tidak lagi berkutat sepenuhnya pada kata-kata Descartes: “Saya berpikir, maka saya ada” (cogito ergo sum), karena kemudian yang lebih tepat kiranya adalah: “Saya dipikir[kan], maka saya ada” (cogitor ergo sum). Ya, “saya ada”, “Anda ada”, “kita ada”, karena saya, Anda, kita “[telah] dipikirkan”. Descartes memang seorang pemikir hebat, tetapi dia pun (sudah) ada sebelum dia mampu berpikir hebat atau kurang hebat, karena pertama-tama telah “dipikirkan, diinginkan, agar ada”.
Ketika melongok Alkitab, kita akan menemukan sudut pandang Allah yang sangat jelas menguatkan pemikiran Karl Barth. Kita ambil contoh Kitab Mazmur, “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mzm 139:13). Pemazmur kiranya sangat yakin, bahwa ada DIA yang menenunnya, yang memikirkannya, yang merancangnya, dan yang membuatnya mulai dari kandungan ibunya.
Menarik pula apabila kita menoleh Kitab Mazmur 8, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm 8:4). Mengapa manusia tidak layak dipikirkan? Dalam refleksi para penulis mazmur, manusia itu hanya “angin belaka” (Mzm 39,6), atau seperti “bayang-bayang yang cepat berlalu” (Mzm 39,7). Namun toh, Allah itu terus kepikiran dengan manusia, bahkan juga dalam keadaan yang tidak pantas sekalipun.
Bahkan, manusia sedemikian dipikirkan oleh Allah sebagaimana digambarkan dalam bapa yang menanti-nantikan anaknya pulang (Lukas 15:11-32). Si anak bungsu yang ndableg ini (seperti BP, BA, Bank, aku juga… he… he…), yang kadang bertindak ngawur, “tidak berpikir” (meminjam istilahnya Descartes). Manusia itu ada, anak bungsu itu ada, karena dipikirkan dan selalu ada dalam pikiran bapanya.
Kiranya di sinilah jawaban atas keberadaan manusia dengan aneka persoalan serta misteri yang mengiringinya. Dihadapkan pada realitas manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, cogito ergo sum tak sepenuhnya bisa diterapkan.

RSS Feed (xml)
0 komentar: on "MELIHAT PEMIKIRAN RENE DECARTES"
Posting Komentar