
Ada seorang ayah yang tengah dirundung kegundahan bertanya pada anak bungsunya. Tentang apa yang harus dilakukannya ketika si anak tertuanya mengaku berpindah kepercayaan dari reliji yang sama dengannya dalam sebuah pernikahan. Padahal, mendiang istrinya, juga berbeda kepercayaan dengannya. Si anak bungsu menjawab dengan singkat, “Kalau Papa betul-betul yakin dengan agama kita, sekarang aku akan berdiri sebagai penentang pertama di depan semuanya”. Si ayah kemudian menarik nafas panjang, berpikir sebentar, kemudian memeluknya sambil berkata. “Keluarga ini hanya kita. Dia tak punya siapa-siapa lagi selain kita. Apapun pilihannya, kalian tetap anak Papa”. Dalam hatinya, ia sebenarnya bukan tak yakin dengan apa yang selama ini dipercayainya. Tapi ia tak mau mempertaruhkan keselamatan anak yang begitu disayanginya nanti. He walked the eldest son down to the isle of his marriage. Di sebuah rumah ibadah yang bukan rumah ibadahnya. At whatever it takes. Dengan sebuah senyum bahagia dan janji bahwa ia akan tetap jadi ayah yang akan selalu melindungi dan menyayangi sang anak. Begitu banyak jalan. Tapi hanya ada satu tujuan dibalik semua jalan dan cara yang berbeda. Di saat istilah agama disatukan dari dua kata yang berarti ‘tidak kacau’, beribu kekacauan justru berlatar belakang istilah itu. Dan saya tak tahu orang gila mana yang menciptakan istilah ‘Sepilis’ yang terdengar mirip sebuah penyakit kelamin sebagai singkatan dari Sekularisme, Pluralis dan Liberalisme, lengkap dengan konotasi yang begitu tabu untuk menggantikan kata ‘Toleransi’ yang terdengar arif. Begitu negatif. Begitu sesat mereka anggap. Padahal sebagai bagian dari dunia manusia, kita juga dituntut untuk masuk ke dalam pluralisme itu demi penciptaan sebuah kedamaian di wadah besar tempat kita hidup dan bernafas. Reliji, memang harus dijalankan secara vertikal dengan hati dan sepenuh jiwa, karena mencampuradukkannya dengan otak bisa membawa sejuta logika salah terhadap tafsir ayat-ayatnya.
Ah, let’s not be too preachy. Karena apa yang dituangkan seorang Hanung Bramantyo, dalam karya ke-sekian-nya yang lagi-lagi menyentil persoalan yang sama, juga bukanlah sebuah khotbah yang menggurui. Hanung cuma memperlihatkan visual yang mewakili kejadian sehari-hari (termasuk restoran multietnis dengan batasan itu, yang sebenarnya ada banyak di sekitar kita kalau Anda mau membuka mata) dalam satu ajakan dan tujuan humanis untuk membaur. Tolerate to each kind of differences, serta sebuah penghargaan untuk pilihan-pilihan yang bisajadi berbeda. Hanung memang suka menyentil. Bahkan ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang begitu Islami saja dipenuhi sindiran kasar tentang poligami dalam penerjemahannya, dan protes-protes terhadap fanatisme buta itu semakin berkembang dalam ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Sang Pencerah’ yang juga menuai kontroversi. ? (Tanda Tanya, jika Anda ingin menyebutnya begitu), pun tak jauh dari itu. Walau diprotes keras oleh sebagian petinggi NU, film ini diinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang Banser NU yang tewas bersama bom meledak dalam sebuah usaha pemboman jemaat gereja di satu daerah. Sama dengan status pluralisme agama di negara kita, judul singkat itu memang mewakili pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dalam persepsi perbedaannya. Bagi saya, simpel saja. Hanung hanya mau memberi pesan betapa indahnya sebuah perdamaian walau harus melalui proses kelewat panjang, dan obviously, membela kepercayaannya yang kenyataannya banyak menimbulkan fobia dimana-mana atas ulah pemeluknya yang keterlaluan.
Crossover antar reliji itu digulirkan melalui penokohan multikarakter, sebuah keluarga keturunan Cina yang menjalankan restoran multietnisnya, Tan Kat Sun bersama istrinya (Hengky-Edmay Soelaiman), yang punya aturan jelas untuk memisahkan peralatan yang dipakai untuk makanan halal dan tak halal. Kemudian pelayan setia mereka, Menuk (Revalina S.Temat), seorang wanita berjilbab yang soleha, istri Soleh (Reza Rahadian), kepala keluarga yang dilanda krisis kepercayaan diri oleh ketidakmapanannya hingga bergabung dengan Banser NU, serta seorang janda, Rika (Endhita) yang dicerca banyak orang termasuk putra kecilnya karena pindah agama. Lantas ada pula Surya (Agus Kuncoro), figuran galau yang terpaksa meniti karirnya di operet gereja atas ajakan Rika, ustad bijaksana (David Chalik) serta Ping Hen/Hendra (Rio Dewanto), anak Tan Kat Sun yang kerap berseteru dengan Soleh atas latar hubungan masa lalunya dengan Menuk. Semua karakter ini harus berhadapan dengan konsekuensi pilihan mereka ke sebuah klimaks yang meluluhlantakkan kehidupan masing-masing di tengah isu perbedaan antar etnis dan reliji dalam takdir yang ada.
Since this is a movie review, let’s not talk on any other pluralism issue. Secara sinematis, Hanung sudah menampilkan sekali lagi karya fenomenalnya dibalik skenario yang ditulis oleh Titien Wattimena dengan detil-detil konflik yang terbangun rapi dari multikarakter itu. Sentilan demi sentilan yang termuat di dalamnya dipenuhi dialog yang wajar namun tersaji dengan lapisan kedalaman yang cukup inspiratif menuangkan tendensinya tanpa harus berpreachy ria. Sayang hanya dua reliji yang ditampilkan kontras, namun masing-masing penggambarannya mampu menunjukkan penelusuran tujuan kebaikannya secara seimbang. Terhadap karakterisasi yang bertumpuk itu juga, Titien tak perlu menampilkannya secara hitam putih. Semua karakter yang ada bisa hadir dengan detil cukup untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang manusiawi. Sinematografinya yang dibesut Yadi Sugandi juga tampil rapi, dipenuhi shot-shot cantik dalam standar filmis non sinetron tanpa harus berlebihan di sisi artistiknya. Dan dengan ensembel cast yang ada, termasuk Glenn Fredly yang tampil agak kaku dalam debut layar lebarnya, karakter-karakter tadi bisa bergulir dengan penjiwaan yang sesuai terutama Agus Kuncoro yang muncul begitu menarik sebagai highlight disini. Kalaupun mau menyebut kelebihan lainnya, skor Tya Subiakto boleh dibilang sangat masuk membangun kemegahan pengadeganannya. Tentang pilihan ending yang banyak diprotes? Ah, rasanya masih cukup relevan dengan apa yang ingin disampaikan secara keseluruhan, apalagi dalam kaitannya ke inspirasi dari kisah nyata itu. Apapun alasannya, ‘?’ sudah menyajikan sebuah usaha dan pesan yang sangat berharga terhadap carut-marut yang terus berlangsung di sekitar kita. Buka mata dan hati Anda lebar-lebar untuk bisa menyerap itu, seperti sebuah kepercayaan yang dibangun secara vertikal dengan hati dan jiwa yang tulus. Bahwa dalam hantaman-hantaman sosial yang ada, hidup memang sesekali seperti komedi yang menyentil. Anda bisa tertawa, menertawakan diri sendiri, tersinggung sampai marah bahkan menangis ketika sentilan itu berhasil memukul jiwa Anda. Dan Hanung sudah sangat sukses mengemas semua itu dengan sempurna.
Reaksi positif dan negatif mengalir untuk film terbaru Hanung Bramantyo yaitu film berjudul Tanda Tanya (?). Film yang dibintangi Revalina S Temat ini berkisah tentang Keberagaman dan toleransi yang dikemas apik dan menarik.
Berikut Sinopsis Film Tanda Tanya yang diambil dari situs resmi Film Tanda Tanya di http://filmtandatanya.com :
Menuju Sebuah Keyakinan yang Hakiki
Keberagaman dan toleransi merupakan dua hal yang saling terkait, terutama jika menyangkut masalah keagamaan dan suku bangsa. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan berbagai macam etnis dan kebudayaan, memiliki banyak kisah perihal toleransi yang menarik untuk diangkat dalam tayangan layar lebar. Hanung Bramantyo sebagai seorang sutradara kawakan tergerak untuk dapat menghadirkan kisah dengan latar belakang perbedaan ini kepada masyarakat Indonesia. Untuk itu Mahaka Pictures dan Dapur Film akan, meluncurkan film tersebut pada 7 April 2011 di bioskop-bioskop Indonesia.Film ke 14 Hanung Bramantyo ini mengisahkan tentang konflik keluarga dan pertemanan yang terjadi di sebuah area dekat Pasar Baru, dimana terdapat Masjid, Gereja dan Klenteng yang letaknya tidak berjauhan, dan para penganutnya memiliki hubungan satu sama lain.
Dikisahkan bahwa terdapat 3 keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga Tan Kat Sun memiliki restauran masakan Cina yang tidak halal, Keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan soleha, Keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan Surya, pemuda yang belum pernah menikah. Hubungan antar keluarga ini dalam kaitannya dengan masalah perbedaan pandangan, status, agama dan suku, akan dipaparkan secara menarik dalam film berdurasi 100 menit.

RSS Feed (xml)
0 komentar: on "'TANDA TANYA' YANG MENYADARKAN (Resensi Film)"
Posting Komentar